Gila! PEMILU 2019 di Busan harus ujian TOEIC dulu dan dipaksa tiga kali nyoblos

2
192
PEMILU 2019 di Busan - Korea Selatan
PEMILU 2019 di Busan - Korea Selatan

😀 Senyum dulu yuk sebelum baca tulisan ini.

Mohon jangan dianggap serius ya… saya tahu saat ini suasana PEMILU 2019 sedang hangat-hangatnya.

Bahkan saking hangatnya, “kehangatan” debat antar pendukung masing-masing paslon presiden di sosial media seperti facebook, IG, dsb, bisa dipake untuk masak air atau rebus indomie. (*apaa coba retjeh banget).

Artikel judul ini sengaja saya buat sedemikan rupa sehingga saya bisa melatih diri menulis sebuah artikel biasa dengan judul yang luar biasa (baca: judul yang diperbuas).

Ok saatnya fokus ke cerita utama. 😀

Hari ini, Minggu, 14 April 2019. Tepatnya di Busan, Korea Selatan, sedang diadakan PEMILU 2019. PEMILU yang diadakan tiga hari lebih awal dari jadwal PEMILU di Indonesia ini (17 April 2019), diperuntukan khusus bagi teman-teman yang sedang berada di luar negeri.

TOEIC dulu! baru bisa ikut PEMILU

Di hari yang sama, ternyata saya juga harus mengikuti ujian TOEIC alias Test of English for International Communication (sengaja ditulis gini biar panjang artikelnya) sebagai salah satu syarat diakhirinya pendidikan yang sedang saya tempuh.

Petunjuk menuju lokasi ujian TOEIC

Berhubung ujian TOEIC-nya dilaksanakan pagi hari, yaitu jam 09.20 (ngapain juga dikasih tau jam-nya, lha wong pembaca artikel ga mungkin dateng ke ujian TOEIC-nya) ya mau tidak mau saya harus mengikuti ujian TOEIC terlebih dahulu sebelum akhirnya pergi menuju TPS (Tempat Pemungutan Suara lho ya, bukan Tempat Pemungutan Sampah atau-pun Tempat Pelampiasan dendam keSumat)

Kalau saya lebih memilih pergi ke TPS dulu, bisa-bisa saya akan diikutkan PEMILU kampus yang diadakan untuk memilih mahasiswa yang akan “disudahi” lebih awal. Bukan di “wisuda(h)” lebih awal. 😀 (unfaedah banget paragraf tambahan ini.)

Tantangan Ujian TOEIC di saat Masa PEMILU

Mengikuti ujian TOEIC di saat masa PEMILU bukan berarti tanpa tantangan. Justru tantangannya jauh lebih besar daripada teman-teman yang memilih mengikuti ujian TOEIC di hari-hari biasa.

Mengapa?

Suasana kelas – tempat ujian TOEIC

“Kemeriahan” dan “kehangatan” PEMILU membuat sebagian orang (atau cuma saya aja ya) sangat ber-nafsu untuk mencoblos apapun yang berupa kertas.

Nah kalian bayangkan. Setelah sekian bulan ikut “meramaikan” PEMILU di sosial media, keinginan saya untuk mencoblos apapun yang berupa kertas sudah mencapai ubun-ubun.

Kalau teman-teman pernah ikut ujian TOEIC, lembar jawaban yang disediakan itu hanya boleh dijawab dengan mengisi penuh lingkaran yang ada pada lembar tsb dengan pensil 2B (Bukan dengan paku).

Apa yang terjadi kalau saya tidak bisa mengendalikan diri saat mengikuti ujian TOEIC. Lembar jawaban saya akan penuh dengan lubang-lubang emosi akibat kemeriahan PEMILU. Dan kemungkinan lulus ujian TOEIC menjadi semakin mustahil.

Dipaksa tiga kali nyoblos

Setelah ujian TOEIC berakhir pada pukul 12.00 WKS (Waktu Korea Selatan), saya-pun terpaksa mencurahkan semua emosi dan mencurahkan apa yang saya tahan selama ujian di Toilet lantai tiga tak jauh dari lokasi saya mengikuti ujian.

Murka tapi lega. cuma itu yang bisa saya sampaikan. Tidak kurang. Tidak lebih. dan mohon jangan dilebih-lebihkan

TPS Busan – Mesjid Al-Fatah – Busan – Korea Selatan

Sekitar pukul 12.45, akhirnya saya dan teman-teman tiba di Mesjid Al-Fatah Busan, tempat dimana TPS Busan bersemayam.

Tanpa basa-basi, dan dengan semangat yang menggelora, saya-pun langsung mendatangi meja panitia untuk mengambil nomor antrian (bukan untuk mencoblos tenda panitia dengan murka). Akhirnya saya mendapatkan nomor antrian 14.

Kemurkaan saya sesaat setelah selesai ujian TOEIC tadi, ternyata berdampak buruk bagi saya.

Disinilah, saya dipaksa oleh perut saya sendiri untuk mencoblos sebanyak tiga kali selama beredar di TPS Busan.

Coblosan pertama. Kertas suara yang berisi calon presiden dan wakil presiden menjadi korban coblosan saya yang pertama. (Sayangnya tidak ada dokumentasi foto yang bisa saya tunjukkan untuk pencoblosan yang pertama ini)

Inget PEMILU itu kan LUBER (Langsung Umum Bebas bERseteru)

Kedai Bakso IGA – TPS Busan – Korea SElatan

Coblosan kedua. Setelah puas melampiaskan sebagian besar emosi pada coblosan pertama, saya tidak berhenti begitu saja. Terlebih tidak jauh dari TPS Busan, terdapat kedai kecil yang menjual bakso IGA dan ayam crispy.

Yang sadar kamera pada foto diatas adalah rekan saya. Sengaja tidak saya sebutkan namanya demi menjaga privasi beliau. Tapi beliau sering dipanggil dengan nama mas Penta. 😀

Jika saya berfoto bareng dengan beliau, pasti teman-teman saya menyangka kita adalah anak kembar yang terpisah. Beda ibu, beda bapak dan beda keluarga. seperti pinang yang sengaja dibelah-belah.

Diluar itu semua, teman-teman juga selalu kesulitan membedakan yang mana bakso, yang mana orang, kalau saya dan beliau berada tepat didepan kedai bakso tsb. Alhasil kita-pun khawatir orang-orang mencoblos bakso yang salah.

Ayam Crispy – Seribu KRW – Satu Cup Kecil

Coblosan ketiga. Coblosan ketiga ini saya lakukan sebagai coblosan penutup. Tidak cukup dengan melahap habis ayam crispy diatas, saya-pun dengan tegas dan lantang memesan satu porsi bakso IGA dan meminta bayar-nya nanti saja alias ngutang (*ngutang karna kenal ama yang jual dan ga bawa uang cash <- alasan ;p)

Coblosan Penutup – Bakso IGA – TPS Busan – Korea Selatan

Sebagai penutup, sebelum akhirnya saya sholat dzuhur dan kembali ke one-room tempat saya tinggal, ada orang yang melihat saya makan bakso IGA dengan lahap dan sempat mengajak saya untuk bergabung ke club bapak-bapak makan bakso IGA tanpa BAKSO.

Tetapi saya menolaknya… karena cerita terakhir adalah cerita rekaan belaka. Kesamaan cerita dan aktor merupakan bentuk kesengajaan dari sang penulis artikel ini.

Selama memilih teman-teman

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.